Ini Sudah Suratan Tuhan

Hujan memecah langit. Air deras membasahi tubuh kurus Gita. Dua langkah lagi ia akan sampai ke halte untuk berteduh. Sore itu hujan lebat. Ketika pulang sekolah tadi, belum sampai ia ke halte, hujan deras sudah keburu turun. Alhasil baju, tas, dan sepatunya basah kuyup. Ia pun berteduh dan duduk di salah satu bangku halte. Dipandanginya sekitar. Dan tiba-tiba saja perasaan sesak menyelimuti benaknya. Ia ingat ibunya di rumah yang sedang sakit. Andai tadi ia tidak bertemu kak Ina dan tidak berbincang-bincang dengannya, mungkin ia sudah sampai di rumah dan tidak akan terjebak hujan sore ini.

“Hujan, cepatlah kau berhenti, aku ingin pulang,” gumamnya dalam hati.

Setahun terakhir ini hidup Gita memang sudah tak karuan. Ia harus bisa membagi waktu antara sekolah dan membantu ayahnya menjaga adik, karena ibunya sedang sakit. Tepat satu tahun sebulan yang lalu, ketika ia baru saja lulus SMP, ayahnya di-PHK dari tempatnya bekerja. Untung saja perusahaan tersebut memberikan uang pesangon yang cukup banyak sehingga ayahnya bisa membuka usaha warung. Dengan usaha kecil-kecilan itu, ayahnya masih bisa membiayai seluruh kebutuhan keluarga mereka mulai dari biaya makan, listrik, uang sekolah Gita dan adiknya, bahkan untuk rekreasi terkadang masih cukup. Walaupun hanya usaha kecil yang pas-pasan, keadaan tersebut tidak jauh berbeda dengan keadaan mereka saat ayahnya masih bekerja. Mereka cukup bahagia dengan semua itu. Hingga pada suatu hari, kabar buruk itu datang.

Beberapa minggu setelah ayah Gita di-PHK, ibunya jatuh sakit. Awalnya memang hanya perasaan pusing, lemas, dan sedikit mual. Sesekali demam. Namun, tak pernah terbayangkan di benak Gita, ketika dokter menyampaikan hasil pemeriksaannya, bahwa ibunya mengidap penyakit kanker payudara stadium tiga. Semenjak hari itu kehidupan Gita berubah. Ia dan keluarganya sudah tidak pernah berekreasi. Makan malam bersama pun tidak setiap dilakukan. Namun Gita menganggap ini semua adalah cobaan dari Tuhan untuknya dan keluarganya. Ia selalu berdoa siang malam agar ibunya segera diberi kesembuhan. Ia berharap Tuhan memberikan keajaiban, karena ia tau penyakit kanker adalah penyakit mematikan dan belum ditemukan obatnya.

Semakin hari semakin berkurang senyum manis yang tersungging dari bibir Gita karena doa itu belum terjawab bahkan berbanding terbalik. Kondisi ibunya semakin memburuk walaupun sudah berobat ke sana ke mari. Keadaan keuangan keluarga Gita pun semakin memburuk karena modal usaha warung mereka semakin lama semakin menipis. Keadaan seperti itu memaksa ayah Gita mengurangi uang jajan Gita. Gita sangat mengerti perasaan ayahnya. Ia sama sekali tidak bersedih jika uang jajannya berkurang. Ia mencari cara bagaimana agar uang jajannya bisa mencukupi kebutuhan sekolahnya. Gita pun memutuskan untuk berjualan di sekolah. Berat memang bagi Gita, harus berjualan di sekolah. Tapi ia tidak ingin menambah beban ayahnya. Jadi ia mencoba bersabar dengan keadaannya sekarang.

Gita berusaha tegar menjalani hari-harinya yang cukup menyedihkan. Ia selalu berusaha memandang setiap masalah dari sisi positifnya. “Ini pasti cara Tuhan menyampaikan rasa sayang-Nya padaku. Masalah-masalah ini pasti hanya sebuah proses agar aku menjadi lebih dewasa dan lebih penyabar,” selalu katanya menyemangati dirinya sendiri ketika ia merasa lelah dan sedih. Walapun terkadang tangisan dari matanya pecah juga dan membasahi pipi, ia tetap berusaha menerima jalan Tuhan buatnya itu.

Hujan telah mereda. Gita pun pulang. Sesampainya di rumah ia temui ibunya yang sedang berbaring di atas kasur. Diciumnya tangan ibunya dan diusapnya badan ibunya yang semakin kurus digerogoti oleh penyakit itu. “Maafin Gita ya, Bu. Pulangnya telat. Tadi Gita ketemu kak Ina sepulang sekolah, kami mengobrol banyak tentang pelajaran. Tapi sewaktu Gita ingin pulang ke rumah hujan turun deras sekali. Gita jadi harus nunggu sampai hujan reda dulu baru bisa pulang. Lihat saja Bu baju Gita basah semua, maaf ya Bu,” ujar Gita dengan nada menyesal. Seperti biasa ibunya hanya menjawab dengan kedipan mata. Gita sudah terbiasa dengan keadaan itu, keadaan di mana ibunya sudah tidak bisa berbicara. Kadang Gita menangis melihat keadaan ibunya seperti itu. Ia hanya bisa memanjatkan doa, karena satu-satunya yang selalu ia percaya dapat menyembuhkan adalah doa.

Pengobatan penyakit ibu Gita bisa dibilang sudah cukup maksimal. Sudah ke rumah sakit sampai ke pengobatan alternatif. Tapi itulah, semua di hidup ini, semaksimal apa pun usaha manusia, ada Tuhan yang menentukan hasilnya. Sudah beberapa bulan menjalani pengobatan, tanda-tanda kesembuhan ibunya tidak terlihat.

Hari itu jadwal check up ibu Gita ke rumah sakit. Ibunya akan pergi check up diantar ayah. Gita terpaksa tidak masuk sekolah, karena harus menjaga adiknya, Laila, yang berumur tujuh tahun. Ini sudah yang ke sekian kali Gita tidak masuk sekolah karena harus menjaga Laila. Ia cukup banyak ketinggalan pelajaran padahal sebentar lagi akan ujian semester. Tapi ia tidak terlalu memusingkan hal itu, yang terpenting baginya sekarang adalah kesembuhan ibunya. Ia percaya mungkin akan ada keajaiban dan ibunya bisa disembuhkan. Ia ingin kehidupan keluarganya kembali seperti dulu. Saat ayah, ibu, dan adiknya menjadi keluarga yang bahagia. Hampir tidak pernah ada permasalahan yang besar dalam keluarga itu. Mereka selalu bisa makan malam bersama-sama dan sering berekreasi tiap bulannya. Sungguh bahagia kehidupan mereka setahun yang lalu.

“Ibu sudah siap? Hari ini Ibu harus check up. Gita akan jaga Laila, jadi Ayah bisa mengantar Ibu,” kata Gita pada ibunya dengan kesedihan yang ditahan-tahan. Gita memang selalu sedih ketika melihat keadaan ibunya. Ingin rasanya ia menangis setiap kali melihat ibunya dalam kondisi sakit seperti itu.

“….” ibunya tidak menjawab apa-apa. Ia hanya diam memandangi anak gadisnya. Bahkan kedipan matanya tidak menunjukkan kata setuju. Gita menjadi bingung.

“Loh, Ibu tidak mau check up hari ini?” tanyanya heran. Ibunya menjawab dengan kedipan mata tanda ‘ya’. “Tapi Ibu harus check up hari ini. Kan sudah jadwalnya. Supaya Ibu cepat sembuh,” sambung Gita. Tiba-tiba saja menetes air mata membasahi pipi ibunya itu. “Ibu jangan menangis, maafin Gita. Tapi Ibu memang harus check up, supaya penyakit Ibu cepat sembuh, supaya kita bisa makan bersama dan jalan-jalan lagi, Bu. Ibu selalu mengajarkan Gita untuk menjadi anak yang sabar, sekarang juga Ibu harus sabar menjalani pengobatan penyakit Ibu,” kata Gita disertai isak tangis. Gita akhirnya tak bisa menahan air matanya, padahal ia pernah berjanji tidak akan menangis di depan ibunya.

Ayah Gita yang sedari tadi mendengarkan percakapan anak dan istrinya menghampiri mereka diikuti oleh Laila. “Kamu tidak mau check up, Bu? Ya sudah, tapi anak-anak kita ini berharap ibunya masih mau bermain dengan mereka. Mereka berharap kamu sembuh, Bu,” kata ayah Gita sambil memalingkan wajah agar Gita dan istrinya tidak melihat air matanya jatuh satu persatu. Gita mengusap-usap tubuh ibunya, sambil menangis. Ibunya memandangi suami dan anaknya dengan tatapan nanar, merasa berdosa, merasa bersalah karena tidak berdaya.

“Ya sudah, aku tidak memaksa. Kalau kamu sudah tidak mau meneruskan pengobatan ini. Tidak apa. Tapi sekarang kamu makan ya, Bu. Aku ambilkan bubur kesukaanmu,” sambung ayah Gita sembari bangkit dari duduknya dan beranjak keluar. Tapi tiba-tiba saja, ibu Gita mengerang. Gita yang sedari tadi mengusap tubuh ibunya sontak kaget.

“Yah, ibu Yah!” teriak Gita pada ayahnya. “Ibu, Ibu kenapa? Bagian mana yang nyeri, Bu? Atau Ibu ingin ke kamar mandi?” lanjut Gita berbicara pada ibunya. Tubuh ibunya berguncang hebat. Ayah dan Gita berusaha memegangi tubuh yang sudah sangat kurus itu. Dalam hati Gita berharap, “Ya Tuhan, Jangan sekarang. Jangan Kau ambil dulu Ibuku, aku belum siap kehilangannya.”

Tangisan Gita semakin meledak, ketika melihat kaki ibunya sudah tidak bergerak.

“Ibuuuuu, jangan pergi sekarang. Ibu kan janji akan sehat dan kita akan jalan-jalan lagi. Tuhan, jangan sekarang Tuhan,” rengek Gita sambil terus memegangi tubuh ibunya.

Ayah Gita menahan tangisnya dan membantu istrinya mengucap dua kalimat syahadat. “Ayo ikuti, Bu. Kamu pasti bisa, Bu,” ujarnya. Tiba-tiba saja mulut ibu Gita bergerak perlahan mengucapkan dua kalimat syahadat, lalu seketika tubuh, bibir, dan mata ibu Gita berhenti bergerak. Dan pagi itu, Tuhan telah mengambil nyawanya.

Gita menangis tersedu-sedu. “Ibu, jangan pergi. Ibu, Gita ada di sini, Bu. Gita nggak akan nakal lagi, Laila juga nggak akan nakal lagi, asal Ibu jangan pergi ninggalin kami. Ibuuuu,” ujarnya sambil memeluk tubuh ibunya yang sudah terbujur kaku.

“Sudah, Nak, sudah. Kita harus ikhlas melepas kepergian Ibu. Ini sudah suratan Tuhan. Inilah hidup, Nak. Hidup adalah untuk mati dan kita semua akan mati,” kata ayah Gita mencoba menenangkan anaknya dan juga dirinya sendiri. Gita tidak menjawab, hanya ratapan yang keluar dari bibirnya. Terdengar suara petir. Tak berapa lama hujan turun. Dan langit pun menangis menyaksikan kedukaan Gita, Laila, dan ayah mereka atas perginya orang yang mereka sayangi.

Iklan

About guntarihasyya

"Berharap menjadi mutiara di tengah lautan."

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: