Perlukah Ujian Nasional Diadakan?

Ujian nasional bukanlah hal yang asing lagi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Setiap pelajar dari tingkat SD sampai SMA harus mengikuti ujian nasional terlebih dahulu sebelum dinyatakan lulus dari tingkat pendidikan yang dijalankannya. Diadakannya ujian nasional ini bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa terhadap mata pelajaran yang sudah dipelajari sejak awal pendidikan. Selain itu ujian nasional juga merupakan salah satu syarat kelulusan siswa dari tingkat pendidikannya. Siswa akan dinyatakan lulus apabila hasil ujian nasional mereka di atas standar yang telah ditetapkan. Namun, sampai saat ini, pelaksanaan ujian nasional banyak menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat Indonesia.
Bagi saya pribadi, program ujian nasional merupakan suatu hal yang positif dan membangun dalam ranah pendidikan Indonesia. Menjadikan ujian nasional sebagai syarat kelulusan tentu merupakan hal yang tepat. Suatu hal yang wajar apabila kita ingin lulus dari suatu bidang kita harus diuji terlebih dahulu mengenai bidang tersebut, hal ini untuk menandai apakah kita sudah paham dan sudah pantas lulus dari bidang tersebut? Ujian nasional pun seharusnya menjadi pengukur kemampuan siswa, apakah mereka sudah pantas lulus dan sudah benar-benar memahami mata pelajaran yang mereka pelajari selama mereka menjalani pendidikan? Namun, melihat dari kenyataan yang ada, praktik pelaksanaan ujian nasional belumlah sesuai dengan harapan dan tujuan diadakan ujian nasional itu sendiri sehingga menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Ada beberapa hal yang menjadikan pelaksanaan ujian nasional tidak tepat dan tidak sesuai tujuan, antara lain sebagai berikut.
Ujian nasional akan menjadi pembahasan utama tiap siswa yang sudah berada di tingkat akhir pendidikannya. Guru-guru pun ikut sibuk mengurusi persiapan setiap siswanya untuk menghadapi ujian nasional. Bagaimana tidak? Ujian nasional menjadi syarat kelulusan, apabila tidak lulus ujian nasional berarti tidak lulus sekolah, tidak lulus sekolah artinya siswa harus mengulang sekolahnya sehingga jelas saja jika siswa sibuk mempersiapkan dirinya agar dapat lulus dari ujian nasional. Walaupun kebijakan pemerintah saat ini sudah lebih ringan, yakni tidak hanya ujian nasional yang menjadi syarat mutlak kelulusan tetapi juga ditambah nilai rapot, namun tetap saja dibutuhkan persiapan khusus untuk menghadapinya. Hal ini tentu menimbulkan tekanan bagi para siswa. Coba saja perhatikan keluhan apa yang sering keluar dari mulut siswa setiap detik-detik menjelang ujian nasional. Sejauh pengalaman saya selama duduk di bangku SMA, saya sering mendengar teman-teman saya berkata,
“Duh, gue belum ngerti nih, padahal ujian nasional tinggal tiga minggu lagi. Tiap hari gue les, tapi otak gue bukan tambah berilmu malah tambah eror kayaknya. Pusing gue. Tapi kalo gak belajar nanti gue malah gak lulus. Ahhhh, pusing.”
Tertekan dan terbebani, mungkin bisa dibilang keadaan siswa menjelang ujian nasional adalah seperti itu. Bahwa ujian nasional adalah syarat kelulusan pasti membuat mereka sangat terbebani karena akan menyangkut masa depan mereka. Mau tidak mau mereka dituntut untuk menguasai seluruh mata pelajaran yang diujiankan hanya dalam waktu beberapa bulan, belum lagi kewajiban dan berbagai macam tugas yang juga harus mereka selesaikan sebagai siswa tingkat akhir. Hal ini jelas saja menjadi sebab mengapa banyak siswa yang tidak siap dalam menghadapi ujian nasional hingga akhirnya mereka melaksanakan ujian nasional dengan penuh kecurangan. Menurut saya, hal ini karena siswa dituntut kepada hasil bukan kepada prosesnya.
“Yang penting kan lulus, mau pake sontekan atau gak pun yang penting nilai ujiannya gak jelek dan bisa lulus. Malu kan kalo sok-sokan gak nyontek tapi malah gak lulus?” begitu kata salah seorang teman sewaktu saya SMA dulu.
Ini membuktikan bahwa mereka tidak peduli akan proses belajar selama bertahun-tahun, mereka hanya peduli pada hasilnya. Kalau saja dipikir secara jernih, buat apa bersekolah bertahun-tahun, bayar mahal, kalau hasil akhirnya bisa didapat dengan menyontek atau membeli soal? Bisa saja siswa ikut ujian nasionalnya tanpa harus bersekolah dulu, toh pelajaran yang dipelajari bertahun-tahun seperti tidak ada gunanya. Bahkan terkadang guru-guru pun hanya menuntut siswa pada hasil bukan mengajarkan siswa arti penting dari proses. Buktinya sering kita lihat di televisi, guru-guru yang membantu siswanya menyontek dan memberi sontekan ketika ujian nasional.
Seharusnya baik guru maupun orangtua membantu siswanya agar mereka menyadari bahwa bukan hanya hasil akhir yang harus dicapai, tetapi proses belajar selama bertahun-tahun itulah yang harus dimaksimalkan. Memang kurang adil melihat kenyataan bahwa sekolah bertahun-tahun hanya ditentukan dalam beberapa hari ujian nasional, tetapi bukan ujian nasionalnya yang harus dipermasalahkan melainkan bagaimana proses menghadapinya. Kebanyakan sekolah fokus terhadap persiapan ujian nasional ketika di akhir tingkat pendidikan siswa, sehingga jelas hal-hal tersebut di atas sering terjadi. Alangkah lebih baik jika ujian nasional tetap diadakan namun dipersiapkan sejak awal sehingga tidak menjadi beban bagi para siswa.
Selain itu, faktor lain yang membuat ujian nasional menjadi pro dan kontroa adalah bahwa dalam ujian nasional, mata pelajaran yang diujiankan hanya beberapa saja yang dianggap sebagai mata pelajaran pokok dan penting untuk ke depannya. Jika seperti itu, lantas untuk apa mempelajari mata pelajaran lain yang dianggap kurang penting untuk ke depannya? Mengapa tidak diujiankan semuanya? Atau kalau perlu tidak usah dipelajari mata pelajaran yang tidak diujiankan. Bukankah waktu yang dibutuhkan untuk mempelajari mata pelajaran yang tidak diujiankan bisa digunakan untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian nasional, jika memang ujian nasional yang menjadi tujuan akhir dari suatu pendidikan. Alasan ini menjadi berkaitan dengan poin sebelumnya, jelas saja banyak siswa bahkan guru-guru pun menghalalkan segala cara menempuh kelulusan ujian nasional, karena selama ini mereka disibukkan untuk mempelajari hal-hal yang tidak terlalu menunjang keberhasilan ujian nasional. Mungkin kebijakan EBTANAS yang pernah diberlakukan dulu lebih berkualitas ketimbang ujian nasional yang dilaksanakan sekarang. Alasannya karena dalam EBTANAS semua mata pelajaran yang dipelajari di sekolah diujiankan, jadi proses belajar mengajar yang sudah dijalankan bertahun-tahun selama sekolah tidak menjadi sia-sia.
Sekali lagi perlu ditekankan bahwa pendidikan Indonesia masih berorientasi pada hasil bukan pada proses sehingga jika mendapat pertanyaan, mengapa pendidikan di Indonesia belum maju-maju? Jelas sudah jawabannya. Perlu kerjasama berbagai pihak untuk memajukan pendidikan bangsa ini. Terkait ujian nasional pun, menurut saya ujian nasional masih perlu diadakan, selama pelaksaannya sesuai dengan harapan dan tujuan sesungguhnya diadakan ujian nasional. Seperti apa pun bentuk ujiannya selama dilaksanakan secara tepat dan mengedepankan proses yang baik, akan dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, bukan sebaliknya. Jadi, baik bagi siswa maupun guru, laksanakanlah ujian nasional dengan sebaik-baiknya agar tercipta pendidikan Indonesia yang lebih berkualitas.

Tulisan ini dibuat sebagai tugas mata kuliah Penulisan Populer.

Iklan

About guntarihasyya

"Berharap menjadi mutiara di tengah lautan."

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: