Kontemplasi di Malam Hari

Ada pertanyaan yang terus saja menjejal di pikiran,
“Guntari, sudah semester V seperti ini apakah yang sudah kamu lakukan? Untuk orang tuamu, untuk saudara-saudarimu, untuk teman-temanmu, untuk dirimu, terkhusus untuk Tuhanmu.”

“Sudahkah kamu memaksimalkan segala potensi yang kamu miliki?”

“Matamu yang mampu melihat, bibirmu yang mampu berbicara, telingamu yang mampu mendengar, tanganmu yang mampu berbuat, kakimu yang mampu melangkah, otakmu yang mampu berpikir, dan hatimu yang mampu merasa. Sudahkah itu semua kamu gunakan dengan sebaik-baiknya? Atau jangan-jangan kau sia-siakan, bahkan kau gunakan untuk sesuatu yang tidak ada manfaatnya?”

“Padahal dalam kalam-Nya dikatakan ‘Dan sungguh pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggungjawabannya..’”

“Guntari, kamu sudah besar, sudah mulai beranjak dewasa. Berpikirlah yang lebih serius lagi tentang hidupmu. Sampai kapankah kamu akan main-main? Melewatkan waktu begitu saja, tanpa ada peningkatan dalam berbagai aspek hidupmu.”

“Lihatlah ayahmu.. beliau sudah semakin tua, dan akan semakin menua. Akankah kamu menyia-nyiakan masa tuanya dengan sejumlah kerepotan yang kamu limpahkan kepadanya? Ataukah kamu isi hari-harinya dengan rasa bahagia dan bahagia?”

“Lihatlah adikmu.. kecil mungil, bukan tidak mungkin sebentar lagi ia akan beranjak menjadi gadis yang dewasa. Akankah kamu biarkan ia hidup tanpa ada bimbingan dari siapa-siapa? Sungguh kamulah yang akan bertanggung jawab terhadap masa depannya.”

“Lihatlah kedua kakakmu.. Punya pasangan dan anak-anak yang sudah cukup merepotkan mereka. Akankah kamu menambahi kerepotan mereka itu dengan berbagai keluh kesah dan sikap ketidakmandirianmu?”

“Berpikirlah sejenak, Gun, cepat atau lambat mungkin saja kamu berpisah dengan mereka. Mungkin kamu dulu atau mereka dulu yang akan menghadap-Nya.”

“Cepatlah berbuat, jangan siakan apa yang kamu miliki sekarang. Pikirkan bahwa Allah tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Begitu pun dengan dirimu saat ini. Tidaklah Ia menciptakanmu tanpa maksud. Jangan sampai kehadiranmu di dunia ini hanyalah menambah beban orang-orang yang sebetulnya sudah mempunyai beban. Pikirkan bahwa banyak sekali yang bisa kamu lakukan. Pikirkan bahwa banyak sekali hal yang harus kamu selesaikan, mimpi-mimpi orangtua dan kakak-kakakmu yang harus kamu lanjutkan. Akankah kamu akan berhenti hanya karena kamu merasa tidak mampu? Akankah kamu sia-siakan kesempatan yang telah dengan sengaja Allah takdirkan kepadamu? Pikirkan kembali. Cepat atau lambat dunia akan meninggalkanmu. Jadikan dunia ini sebagai tempat menabungmu untuk akhirat nanti. Yakni dengan berbuat baik, terutama untuk orang-orang terkasihmu itu. Dan tentunya dengan terus menjadi sebaik-baik hamba Tuhanmu. Melangkahlah sekarang. Milikilah masa depan terbaik dengan mengerjakan hal-hal baik mulai saat ini. Melangkahlah dengan penuh keyakinan. Dan yakinlah bahwa Allah senantiasa ada dan mendengar doa-doa hamba-Nya. Good luck. Dan jangan pernah jadikan ini hanya sekadar wacana.”

Iklan

About guntarihasyya

"Berharap menjadi mutiara di tengah lautan."

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: