Refleksi di Malam Hari

Gue salut deh sama attitude mereka..”

Seketika telinga ini ingin mendapat informasi lebih lanjut atas perbincangan itu. Menarik. Sungguh menarik perbincangan yang tengah diutarakan salah seorang temanku kepada temanku yang lain. Rupanya aku memang tidak diajak bicara. Namun, beribu maaf aku sudah tergoda untuk mendengarkan sehingga kucuri-curi apapun yang bisa kudengarkan.

“Iya, mereka tuh ya, padahal penampilannya borju banget, orang tajir abis deh pasti, tapi ramahnya bukan main. Dan bahkan mereka yang nyamperin gue coba, padahal mereka pemilik yayasan itu. Salut banget gue!”

Borju, tajir, ramah? Wow. Makin tergoda rasanya untuk mendengar lebih lanjut. Sembari mendengar dengan telinga yang tak perlu dibuka lebar-lebar, sambil menerawang sel-sel ke berbagai semak belukar. Mencari-cari apa yang kemudian menjadi topik pembicaraan. Menerka nilai apa yang kemudian tengah dibawa di atas perbincangan.

Bukan bermaksud kritis, hanya saja terkadang perlu mempertanyakan apa-apa yang tak bahkan sengaja masuk ke dalam telinga. Kasian jika hanya mampir sejenak lantas dilupakan. Biarlah iseng-iseng kucoba menafsirkan. Semoga tidak salah tafsiran. Kalaupun salah semoga tidak menjadi bahan protesan.

Tetiba teringat seorang dosen yang ketika berbicara seperti tengah mengaduk otak yang kosong ini agar sadar bahwa memang kosong. Dosen yang dengan kapasitasnya mampu membuatku atau mungkin yang lain, berkata “Oh iya ya, benar juga.”. Dosen yang lalu sering meminta jawaban atas pertanyaan, “Orang miskin nggak boleh pintar memangnya?”

Ya betul. Jika mengerti, aku pun hendak mengaitkan pembicaraan tadi dengan konteks tersebut. Lantas apa tidak boleh, orang kaya yang borju dan tajir bersikap ramah? Apa orang kaya harus jahat dan yang ramah harus miskin? Haruskah begitu? Apakah dalam benak manusia saat ini harta dan tahta adalah ukuran yang bisa menentukan harus seperti apa sikap mereka?

Rasanya aku tidak sepakat. Orang kaya tentu boleh ramah, yang miskin tentu boleh jahat. Atau jangan-jangan aku salah menafsirkan? Rupanya mata ini telah rabun dekat, sehingga berpikir terlalu jauh dan melupakan yang terlihat. Hm, mungkin bukan hal itu yang ada dalam pembicaraan tadi. Akan tetapi, “ketidaksombongan” yang ingin diangkat oleh pembicara, temanku sendiri.

Benar saja, memang itu rupanya. Bukan berarti orang kaya tidak boleh ramah, tetapi maksudnya adalah orang kaya yang umumnya sombong menjadi begitu tidak jumawa padahal ia boleh dikata punya semua. Kesalutan itu lantas membuat hati ini tergetar. Rasanya benar. Dan mengapa yang tidak punya apa-apa justru sangat jumawa dan sombong adanya?

Na’udzubillah..

Pengingatan, lagi-lagi pengingatan. Bersyukurlah Dia masih mengizinkan. Perbincangan yang tak lebih dari lima menit itu mengingatkanmu, bukan? Yang kaya dan punya segalanya dalam konteks dunia saja tidak jumawa, lantas yang tak punya apa-apa haruskah sombong di depan manusia lainnya? Apalagi ada yang Maha. Mahakaya, Mahapunya, Mahasegalanya. Masihkah ada baju-baju kesombongan itu melekat dalam dada? Punya apa? Setitik tahi lalat yang kaupunya pun bahkan dari-Nya? Lantas masih adakah yang bisa disombongkan di hadapan manusia? Sekali-kali tidak ada.

Tanggalkanlah baju-baju kesombonganmu itu, segera. Pengingatan ini haruslah membawa hikmah. Dan jangan sampai kau menyesal di akhirnya.

Selamat berusaha, karena seseorang berkata bahwa puncak dari pengetahuan seseorang adalah kerendahan hatinya.

Iklan

About guntarihasyya

"Berharap menjadi mutiara di tengah lautan."

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: