Qurban: Bukti Cinta yang Sesungguhnya

Waktu berlalu begitu cepatnya. Tak terasa, kembali lagi kita nikmati hari raya Idul Adha. Alhamdulillah. Tepat tanggal 5 Oktober kemarin kita bersama-sama dapat merayakannya. Menyaksikan pemotongan hewan-hewan qurban dan kemudian berkumpul dengan keluarga untuk makan menu hidangan yang tidak biasanya. Luar biasa.

Tak beda dengan lainnya, saya pun ikut gembira karena di tiap lebaran haji ini selalu bisa menikmati menu hidangan yang beda dari biasanya. Jika biasanya hanya makan tempe, tahu, tumis kangkung, dan lainnya, sepekan ini insyaaAllah bisa berjumpa menu-menu dengan daging sebagai bahan dasarnya. Alhamdulillah, senangnya.

Hm.. namun rasa-rasanya lebaran di tahun ini ada yang berbeda bagi diri saya. Entahlah apa. Namun jika boleh sok, rasanya bagi saya ada sesal yang masih terasa, ada keinginan yang terlewat begitu saja. Perasaan menyesal dan keinginan yang bercampur jadi satu atas sebuah asa bahwa saya ingin bisa berqurban juga. Jujur saja ada. Kalau dipikir-pikir, setahun ini saya ke mana saja? Setahun ini uang saya untuk apa saja? Ya walaupun belum punya penghasilan tetap, tapi bukankah menyisihkan sedikit uang untuk setidaknya ikut urunan membeli hewan qurban, bisa? Seketika saya menjadi begitu iri dengan orang-orang di luar sana yang mampu berqurban atau memampukan diri untuk berqurban atau setidaknya punya keinginan untuk juga ikut berqurban—walaupun belum mampu—dengan cara urunan. Sementara saya? Jangan-jangan kemarin-kemarin keinginan saja belum punya. Ah, naudzubillah.

Kemudian, sepanjang hari setelah hari raya kemarin itu, saya jadi terus berpikir, terus khawatir. Jangan-jangan ketika sudah punya uang nanti saya juga belum tentu bersedia untuk berqurban. Jangan-jangan diri ini terlalu dipenuhi perhitungan-perhitungan untuk menunda-nunda karena menganggap semua itu tidak memberikan keuntungan. Atau jangan-jangan, keinginan yang ada untuk berqurban hanya sekadar ingin mendapat pujian dan pengakuan. Naudzubillah, semoga bukan.

Seketika diri ini mengingat berita yang pernah muncul beberapa waktu lalu. Tentang sepasang suami istri yang berprofesi sebagai pemulung, namun mengazzamkan diri untuk bisa berqurban di Idul Adha kala itu. Mereka bertahun mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk membeli 1 ekor hewan yang akan mereka qurbankan ketika hari raya Idul Adha tiba. Ketika ditanya jawab mereka hanya, “Ya mau berqurban saja.” Sungguh luar biasa. Pertanyaan yang sempat muncul dalam benak, “Kok bisa?” dan “Apa sebetulnya yang ada dalam bayangan mereka?”. Padahal boleh jadi uang itu bisa mereka gunakan untuk keperluan dunia lainnya. Namun mereka tidak melakukannya. Sepertinya mereka telah memilih sesuatu yang lebih baik di mata-Nya.

Semua itu kemudian menjadi pelajaran yang amat berharga. Melihat itu diri ini amat malu dibuatnya. Sepertinya diri ini masih hanya berkutat dengan sesuatu yang terlihat, masih sibuk dan fokus dengan apa yang nyata. Masih berkorban hanya untuk sesuatu yang sementara. Padahal bisa saja yang dikejar dan disibuki itu akan ditinggalkan dengan segera.

***

Pagi ini pun berbeda. Setelah kemarin berpikir panjang kali lebar kali tinggi tentang motivasi orang untuk berqurban yang rasanya belum muncul di diri saya. Pagi ini sepertinya Allah hendak mengingatkan.

Dalam kesempatan di antara dimensi ruang dan waktu yang mungkin telah menjadi takdir-Nya, Allah izinkan saya mendengar kisah beberapa peperangan yang luar biasa. Salah satu di antaranya, Perang Khandak namanya. Diceritakan bahwa perang itu menuntut perjuangan mahadahsyat dari kaum muslimin untuk melawan musuh, kafir Quraisy yang durjana. Mendengar itu, rasanya, sulit dibayangkan dengan logika. Sulit sekali jika dipikir, ada sekelompok manusia tetap mau ikut berperang padahal dalam kondisi menahan lapar bahkan sampai mengikatkan batu di perutnya. Jika pakai logika, rasanya jarang sekali mungkin yang akan bersedia. Namun kemudian terlintas kesimpulan, mungkin itulah yang dinamakan pengorbanan dan cinta. Ya, cinta pada-Nya dan pengorbanan untuk membela agama-Nya.

Sesaat kemudian teringat akan kedua orang luar biasa dan orang-orang lainnya, baik yang dengan mudahnya ataupun yang harus susah payah untuk berqurban di hari raya Idul Adha. Mungkin saja mereka juga punya keinginan untuk membelanjakan hartanya untuk dunia, beli motor atau handphone misalnya, tapi kemudian mereka telah memilih. Ya, memilih untuk membelanjakan harta itu di jalan-Nya saja. Pada kesimpulan yang sama, mungkin itulah sebentuk cinta. Mungkin mereka telah memaknai cinta yang sesungguhnya. Cinta kepada Sang Mahacinta yang tak akan membuat mereka kecewa. Sepertinya mereka memang telah meyakini bahwa pengorbanan yang mereka berikan, walau mungkin dengan susah payah atau menabung beberapa lamanya, insyaAllah kan terganti dengan pahala yang jauh lebih berharga.

Sekarang tinggal diri ini yang harus ditanya. Sudahkah diri ini menaruh cinta pertama pada-Nya? Jangan-jangan diri ini belum benar-benar cinta, jangan-jangan orientasi hidup masih hanya kepada dunia isinya, hingga rasanya lebih sayang kepada harta dan dunia.

Semenjak ini, hati kemudian berkata: rasanya tidak ingin Idul Adha tahun depan terlewat begitu saja. Rasanya tak ingin membiarkan lembaran-lembaran rupiah bertebaran hanya untuk berfoya-foya. Rasanya sangat ingin berqurban untuk menunjukkan cinta ini pada-Nya. Rasanya ingin seperti Nabi Ibrahim yang begitu sayang anaknya tapi lebih sayang Allah ta’ala hingga ia rela dengan segenap keikhlasannya menjalankan apapun yang Allah minta. Rasanya ingin.. Karena mungkin saja, berqurban adalah bukti cinta kita yang sesungguhnya kepada-Nya. Allahu’alam bisshawab.

“Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), yaitu orang-orang yang apabila disebut nama Allah hati mereka bergetar, orang yang sabar atas apa yang menimpa mereka, dan orang yang melaksanakan salat, dan orang yang menginfakkan sebagian rezeki yang Kami karuniakan kepada mereka.” (QS. Al Hajj: 34—35)

Iklan

About guntarihasyya

"Berharap menjadi mutiara di tengah lautan."

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: