Bersabarlah Wahai Hati

​Tiba-tiba aku ingin menulis,

Tiba-tiba saja,

Hanya ingin menceritakan betapa bersyukurnya aku atas kehidupan ini

Semakin hari semakin aku belajar banyak hal yang memang harus disyukuri

Dulu, atau lebih tepatnya kemarin-kemarin,

Aku lebih banyak mengeluh,

Menatap hari-hariku dengan kurang rasa syukur

Selalu membanding-bandingkan diriku dengan orang lain

Menyaksikan kehidupan mereka; terlihat selalu terasa lebih indah

Memandang hanya ke luar,

Tanpa banyak melihat apa yang telah Ia titipkan kepada diri ini.

***

Menjadi seorang anak dengan seorang adik kecil tanpa seorang ibu

Kupikir adalah hal yang cukup menyesakkan,

Mencuci pakaian-pakaiannya, menyiapkan bekal dan perlengkapan sekolahnya adalah hal yang melelahkan

Membuatku harus flu beberapa kali karena harus mencuci malam-malam

Menghadapi perkataan tetangga yang menilai banyaknya cucianku,

Andai mereka tau betapa aku hanya mampu mencuci seminggu sekali

Sehingga pasti akan terlihat selalu sebanyak itu.

Penat kadang,

Belum lagi adikku sering lupa menaruh barang-barangnya

Aku sampai kesal kalau diminta mencarikan apapun miliknya yang hilang

Mana kutahu, pikirku,

Dia yang membuangnya, atau menaruhnya sembarangan tetapi aku yang harus mencarinya

Kadang lelah, ingin menangis, rindu pelukan seorang ibu yang tangannya mampu meredakan tiap ketegangan yang hadir dalam hidup,

Yang doanya mampu mengubah skenario langit yang telah tertulis.

Kadang rindu, dan iri dengan mereka yang masih mampu meminta apapun dan sang ibu.

***

Ah tapi, malu sekali rasanya ketika menyadari betapa pemikiran tersebut adalah bentuk ketidaksyukuran

Malu sekali karena ternyata ada lebih banyak orang yang lebih lelah akan hari yang dijalaninya.

Malu sekali.

Karena pada kenyataannya, diri ini masih mempunyai seorang ayah yang selalu siap siaga membantu anaknya.

Ayah yang tak pernah mengeluh karena harus membantu mengangkat cucian-cucian yang begitu banyak jumlahnya itu.

Ayah yang tanpa diminta akan memasakkan nasi, jika tahu telah kosong isi dalam penanak nasi itu.

Malu sekali, walau ibu telah tiada, tapi kehidupan ini terasa berjalan baik-baik saja.
Hingga kini akhirnya,

Harilah yang menyadarkanku betapa indahnya setiap sisi hidup ini.

Aku justru belajar banyak kedewasaan dari kekurangan yang aku miliki.

Aku bahkan merasa seperti manusia yang Allah titipkan lebih banyak kebahagiaan dibanding orang-orang yang kadang hidupnya aku ingini.

Aku menyadari bahwa kini aku jadi semakin mengerti.

Hidupku adalah hal yang amat patut disyukuri.

Sebab dari banyaknya masalah yang harus dihadapi, aku justru mendapat banyak pelajaran yang begitu berarti.

Menghadapi semuanya yang terkesan “sendiri” mengajarkanku untuk selalu terbiasa mencari solusi.

Menjalani hidup dengan penuhnya tanggung jawab, menempaku menjadi seseorang yang terbiasa menghargai waktu yang dimiliki.
Rupanya dari sini pula aku belajar, tidak ada yang selamanya dalam hidup, begitu pun segala kesulitan-kesulitan ini. Semua akan berlalu, seiring berlalunya waktu.

Semua tergantung bagaimana diri menangkap segala situasi: apakah sebagai sesuatu yang kurang atau justru sebagai suatu rahmat yang memunculkan hikmah yang bertebaran.

Pada akhirnya, aku merasa tidak pernah sendiri.

Lewat segala hal yang dihadapi, aku semakin belajar menyadari bahwa memang ada yang menggenggam jiwa ini.

Ada yang takkan membiarkan diri ini berada pada beban yang tak mampu dipikulnya.

Ia selalu mengerti, sekuat apa hati ini menanggung setiap pemberian-Nya, maka Ia berikan sesuatu yang selalu dirasa mampu untuk dilewati.

Kini aku merasa lebih berbahagia karena meyakini bahwa semakin aku tidak merisaukan sesuatu, semakin berjalan dengan lancar sesuatu itu.

Dengan menghapus sedikit-sedikit risauku, itu artinya semakin bertambah keyakinanku bahwa ada yang mengatur segala jalan hidup. Ada yang bisa dititipkan segala cerita agar kita dapat menjalani hidup tanpa rasa takut. 
Kini, tak ada yang lebih membahagiakan selain dititipkan rasa keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah pemberian yang begitu berarti.

Bahwa akan selalu ada Ia yang mengulurkan tangan untuk menahan segala langkah yang tak mampu lama untuk berdiri.

Akan selalu ada Ia yang menjawab segala kata yang dipanjatkan dengan penuh lirih.

Ia yang takkan pernah lupa untuk membalas segala ketegaran dan kesabaran hati.

Karena nanti akan ada hari yang memberikan ganti atas segala hal yang terasa perih.

Karena semua sementara, akan ada masa di mana kita akan memiliki kebahagiaan yang abadi.

Untuk itu, biarkanku menyemangati diri dengan mengatakan, “Bersabarlah, wahai hati!”
Di sini,

18 September 2016

Iklan

About guntarihasyya

"Berharap menjadi mutiara di tengah lautan."

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: