Menjadi Ibu

“Setiap kali aku memikirkan bahwa kelak aku menjadi seorang ibu. Setiap itu pula aku merasa harus menjadi lebih baik dari hari ini.”

Menjadi seorang ibu adalah dambaan setiap perempuan. Betapa tidak, telah sempurna peran seorang wanita ketika ia mampu menjadi ibu bagi anak-anaknya. Pun dengan diri ini. Mimpi menjadi ibu kelak adalah salah satu keinginan yang sangat ingin aku miliki.

Namun, rupanya menjadi ibu bukanlah pekerjaan yang sederhana. Menjadi ibu adalah amanah yang mempertaruhkan jiwa dan raga. Yang menyita perhatian penuh dan mengambil hampir seluruh perasaan yang dimiliki wanita. Baik senang, sedih, haru, cinta, sayang, maupun duka. Menjadi ibu adalah pekerjaan yang melibatkan hati. Di dalamnya, kita tidak akan mampu jika hanya mengandalkan logika. Tidak butuh banyak alasan logika karena perasaan akan lebih banyak menjalankannya.

Menjadi ibu adalah impian yang harus diupayakan. Oleh karenanya, tidak hanya menyiapkan akan menjadi istri seperti apa kelak, kita juga perlu menyiapkan akan menjadi ibu yang seperti apa nanti. Ibu yang penyayang? Ibu yang tegas? Ibu yang lembut? Ibu yang menjadi teladan? Atau apapun. Semua harus dipersiapkan.

Yang pasti. Sejauh aku mengenal kata ibu, sepanjang itu pula aku tau bahwa seorang ibu adalah orang yang paling sibuk sekaligus paling multitalenta di dunia. Lihat saja. Dari bangun tidur, ia sudah sibuk menyiapkan pakaian dan sarapan untuk suami dan anak-anaknya. Selepas itu, dibersihkannya rumah, dapur, piring, sembari mesin cuci menyala menggiling pakaian-pakaian yang terpakai kemarin. Lalu dijemurnya pakaian-pakaian itu. Setelahnya, ia berbelanja untuk keperluan masak siang dan sore hari. Lanjut dengan memasak dan kembali merapikan apa yang harus dirapikan. Ada waktu untuk rehat tapi tak banyak. Karena setelahnya, ia harus bergegas menanti anak-anak dan suaminya pulang. Menyiapkan makan mereka dan melanjutkan hari dengan mengajarkan anak-anak tugas sekolahnya. Sisanya. Mungkin waktu yang ia sediakan untuk suami akan melengkapi kegiatan sepanjang harinya.

Namun, itu dalam kondisi normal, kondisi semua baik-baik dan sehat-sehat saja. Jika kondisi sedang menyesakkan, seperti si kecil sakit, kendaraan suami mogok, atau hal-hal lainnya, kegiatan penuh teratur dan menanti diselesaikan itu akan kehilangan urutannya. Dan seorang ibu harus siap membelah diri untuk menyelesaikan tiap-tiapnya.

Ia adalah guru, dokter, koki, artis, penulis, sekretaris, bahkan kadang menjadi tukang listrik bagi keluarganya. Ia tidak boleh sakit. Bahkan hanya terlihat sakit. Ia tidak boleh lemah karena ialah penguat setiap lini rumah tangga yang dibangunnya. Ia menjadi poros kebahagiaan dan semangat bagi suami dan anak-anaknya.

Maka dari itu, menjadi ibu perlu persiapan. Fisik dan mental. Seorang ibu tidak perlu menjadi cantik, ia hanya perlu nyaman dilihat bagi keluarganya. Ia tidak perlu pintar nyanyi, selama ia bisa mengaji sudah cukup menjadi nyanyian terindah bagi anak-anaknya. Ia tak harus menjadi profesor, ia hanya perlu banyak belajar dan berpengatahuan luas. Apalagi tantangan zaman ke depan mengharuskan seorang ibu menjadi pandai. Dengan kepandaiannya itu, ia akan menjaga anak-anaknya dari salah pergaulan. Ia adalah segala yang dibutuhkan keluarga dari bangun sampai kembali terlelap.

Kelihatannya, memang tak ada pilihan lain. Selain mempersiapkan segala sesuatunya dari sekarang. Tidak ada kata terburu-buru untuk belajar. Untuk mengemban amanah besar, jika Allah menghendakinya, tidak cukup hanya bermodal pintar dandan. Perlu sejuta kemampuan agar kelak semua berjalan dengan tujuan. Mempersiapkan dari sekarang tidak ada salahnya. Perkara anak adalah hak Allah yang dititipkan kepada kita. Semoga Allah mengizinkan diri ini juga merasakannya. Semangat memantaskan pribadi. 

Iklan

About guntarihasyya

"Berharap menjadi mutiara di tengah lautan."

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: