Hari Ini :)

“Terkadang, banyak hal dalam hidup kita yang terlihat melelahkan justru paling memberi kesan.”

Hari ini, pukul 7.30 aku sudah sampai di lokasi mengajar. Hari yang cukup santai pikirku karena akan selesai pukul 16.30 sore nanti. Tidak seperti biasanya yang mengharuskanku pulang pukul 20.00. Kujalani setiap kelas dengan tenang. Ah ya. Hari ini hari terakhir bagi kelas 9 untuk bimbel. Selasa pekan depan mereka akan menghadapi ujian nasional. Banyak pertanyaan yang muncul dari mereka. Beberapa hal masih sulit mereka pahami sepertinya. Sedikit di antaranya dapat kujelaskan, tetapi sebagiannya aku pun masih memiliki keraguan.

Hm.. kelas berakhir dan artinya aku harus segera beranjak ke lokasi lain untuk megajar kelas 12. Setengah jam berlalu, sampailah aku ke lokasi berikutnya. Kukumpulkan semangatku lagi meski aku terhitung telat dan perutku terasa bersekat karena belum terisi. Kurapikan pakaianku dan kumasuki kelas 12 pertama.

Tak ada kesan tertentu. Hanya… hari ini aku merasa dapat menjelaskan sedikit lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Jujur saja, kelas ini adalah satu dari sekian kelas yang aku takuti. Takut karena mereka telah memiliki konsep guru yang lain. Takut mereka tidak cocok dengan pengajaranku. Dan takutnya hal itu berdampak bagi pemahaman mereka. Setiap kali masuk kelas ini ada saja perasaan kurang nyaman karena khawatir aku tidak bisa menjadi seperti yang mereka harapkan. Tapi entah kenapa hari ini semua berjalan lancar. Alhamdulillah atas pertolongan Allah kekhawatiran itu tidak muncul hari ini.

Kuselesaikan apa yang harus kusampaikan dan kuakhiri kelas dengan hamdallah. Kuturuni tangga menuju ruang pengajar dan tak lama seorang murid memanggilku, menanyakan apa aku ada waktu untuk berkonsultasi. Tak pernah kuasa menolak karena memang aku sedang kosong jam. Kupenuhi saja keinginannya itu. Ternyata, bukan hanya ia tetapi juga beberapa temannya ingin ikut memperdalam materi bahasa Indonesia. Jujur saja melihat itu hatiku girang sekali. Mereka seperti membutuhkan bahasa Indonesia dan ingin mencoba memahaminya.

Kujalani konsultasi itu dengan penuh semangat. Tujuh orang yang penuh antusias membuatku dapat menjelaskan beberapa materi dengan cepat. Namun tiba-tiba, kubaca pesan masukku ada sebuah kabar bahwa murid kelas 9 yang telah janjian beberapa hari lalu untuk konsultasi juga telah sampai. Hm.. terlihat anak ini sedikit kecewa karena tau aku melayani konsultasi yang lain. Tapi kujelaskan baik-baik dan akhirnya ia mengerti dan mau untuk tetap konsultasi. Kuakhiri konsultasi kelas 12 yang hanya berlangsung sekitar 75 menit itu dan segera beranjak menemui murid kelas 9 yang telah memberiku kabar.

Waktu terasa cepat. Kupandangi jam tanganku rupanya hanya tersisa 30 menit lagi untuk konsultasi. Aku belum shalat dan makan. Tapi… Ah, bismillah. Pikirku. Segera saja kutemui murid kelas 9-ku dan memulai konsultasi untuk janjiku padanya ini. Hanya beberapa pertanyaan yang bisa terbahas. Tapi aku penuhi semangat bahwa ia telah mampu, tak perlu berlama-lama konsultasi. Kukatakan itu agar dapat segera kuakhiri. Dan benar saja. Tak lama kemudian bel berbunyi. Kuakhiri pertemuan singkat itu dengan permohonan maaf dan kulangkahkan kakiku untuk memasuki kelas berikutnya.

Kelas 12 lagi. Ya Allah maaf aku belum shalat. Sembari melangkahkan kakiku dengan cepat kuperbanyak mohon ampun atas kelalaianku. Kumasuki kelas yang agak sesak itu. Biar sesak tapi tak ada kesan tertentu seperti sebelumnya. Karena kelas ini terlihat lebih beragam orangnya dan tak punya konsep dengan guru tertentu. Hm. Kuajarkan apa yang haris diajarkan. Dan rupanya.. kelas ini didominasi anak-anak yang mempunyai kemampuan menangkap sangat cepat. Alhamdulillah.. Setidaknya hal ini membantuku menghemat sedikit energi untuk kelas lainnya nanti. Yang membahagiakan lagi, banyak tanya muncul dari kelas ini. Buatku banyaknya pertanyaan siswa cukup menunjukkan seberapa antusias mereka dengan apa yang aku ajarkan. Sangat membahagiakan rasanya melihat banyak dari mereka penuh perhatian atas pelajaran ini. Namun sayang, harus segera kuakhiri.

Kubergegas menuju kelas berikutnya dengan niat membagikan soal dan kemudian kutinggal untuk shalat. Selepas shalat kukembali masuk kelas itu. Kelas 13 yang ketiga. Hm. Biasa saja. Ada yang memperhatikan ada juga yang sibuk dengan kerjaan. Mungkin mereka sudah lelah pikirku. Tapi tanpa sadar rupanya suaraku semakin serak terasa. Harus berdehem beberapa kali agar dapat lancar kembali.

Akhirnya bel pun kembali berbunyi. Tanda istirahat telah tiba. Kulangkahkan kaki dengan cepat menuju ruang pengajar agar dapat segera kumakan makanan siangku yang telah disiapkan. Alhamdulillah. Rasanya pas sekali. Perutku yang lapar dapat terisi dengan makanan yang enak dan mengenyangkan. 

Belum habis kulahap menu siangku, bel kembali berbunyi. Ah ya, sudah 15 menit. Itu artinya aku harus segera masuk ke kelas kembali. Kurapikan makanku segera dan kukumpulkan semangatku lagi. Ini kelas terakhir. Kataku. Sudah makan berarti aku harus lebih semangat. Dan benar saja, memang energi adalah faktor penting bagi aktivitas seseorang. Setelah makan, aku sangat semangat. Dapat kujelaskan sedikit demi sedikit apa yang harus kuterangkan. Respons mereka sangat positif. Membuatku nyaman berlama-lama di kelas terakhir itu.

Beranjak dari kelas itu. Kuniatkan diri untuk segera shalat lagi. Aku tak ingin melalaikannya seperti sebelumnya. Setidaknya tidak setelat tadi. Tapi rupanya, tiba-tiba saja ibu kantin mengatakan bahwa satu murid kelas 9 telah menungguku sejak tadi. Oh ya, masih ada satu janji yang belum kutepati hari ini. Janji konsultasi dengan murid kelas 9 yang lain lagi.

Kuajaknya untuk shalat terlebih dahulu dan setelahnya kami berdiskuki beberapa hal untuk persiapannya ujian nasional Selasa nanti. Ada yang berkesan dalam perjumpaanku dengannya. Anak ini pintar dan sangat rajin. Ia sangat menyukai bahasa Indonesia dan sangat berusaha memahaminya. Aku jadi terkesan.. karena agak jarang kutemui anak SMP yang bersemangat dalam bahasa Indonesia seperti dia ini. Aku hanya tersenyum dalam hati melihatnya yang sangat antusias bertanya dan berdiskusi. Hingga tak terasa waktu telah menujukkan pukul 17.30. 

Kuakhiri karena memang sudah berakhir pertanyaannya. Kukembalikan diriku menuju ruang pengajar tempat di mana aku bisa beristirahat sebelum nantinya aku pulang.

Alhamdulillah… teriakku dalam hati. Berakhir sudah hari ini. Kalau dipikir.. hampir tidak berhenti dari pukul 09.45 sampai 17.30. Banyak bicara tentu membuat lelah. Kurang minum membuat diri rasanya tak mampu berdiri tegap dan gagah. Tapi.. tidak ada sedikit pun hal yang kusesali. Sangat kunikmati berlalunya waktu tadi.

Kini aku tengah terbaring di tempat tidurku dan hendak memejamkan mata untuk beristirahat sejenak. Tapi kemudian, aku memikirkan mengapa bisa aku merasa begitu senang padahal jadwalku cukup penuh sampai menunda waktu shalat hari ini? Kuingat lagi apa saja yang kujalani di hari ini. Dan benar. Rupanya aku teringat senyum-senyum itu. Wajah-wajah yang penuh semangat dan antusias itu. Tanya-tanya yang muncul seputar materi di saat itu. Teringat mereka yang tengah berjuang segala upaya untuk masa depannya. Rupanya itu yang membuat lelah menjadi tidak terasa. Rupanya itu rasa bahagia walau padat waktu hanya karena ucapan terima kasih dari mereka.

Semangat mereka sangat berharga. Mata yang penuh keingintahuan itu lebih ingin kulihat daripada kasur yang tergeletak dan penuh goda. Tanya itu lebih sanggup kuterima walau kaki lelah dan suara yang hampir tidak terdengar sejelas sebelumnya. 

Akhirnya aku mengerti. Banyak orang berjuang keras di luar sana. Meninggalkan waktu-waktu istirahat mereka untuk memberikan senyum di wajah orang lain. Untuk memperjuangkan mimpi-mimpi orang lain. Adakah yang lebih membahagiakan dari melihat senyum kebahagian di wajah orang lain yang kita harapkan kebahagiaannya? Memang benar firman-Nya,

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang hendak kaudustakan?”

Alhamdulillah. Ala kulli hal. Terima kasih yang Allah untuk kebahagian yang Kautitip untukku ini. Semoga aku bisa selalu mensyukuri.

Izinkan Aku Berbaik Sangka

Izinkan aku untuk berbaik sangka. Pada apa yang bersembunyi di balik detik yang bergulir atau menit yang berjalan di sejumlah waktu yang kupunya. Izinkan aku berbaik sangka. Pada momen atau kesempatan di depan yang selalu datang dengan tiba-tiba tanpa memberi kabar sebelumnya. Izinkan aku berbaik sangka. Pada setiap jejak yang harus tertinggal di setiap tempat yang suatu ketika mungkin kan kujumpa. Izinkan aku berbaik sangka. Pada siang yang benderang, malam yang temaram, pada hari yang berlalu dan mengajakku beranjak dewasa. Izinkan aku untuk selalu berbaik sangka. Pada doa. Doa yang kujadikan senjata. Kala hati tak mampu mengirim kekuatan atas setiap kejadian. Izinkan doaku selalu penuh dengan harapan. Izinkan segala prasangka yang ada hanya membayangkan yang terbaik saja. Dan izinkan aku berbaik sangka. Pada-Mu. Karena aku yakin, setiap lirih tasbih dan tahmidku takkan pernah Kaubalas dengan kecewa. 

Ibu Adalah Madrasah Pertama

“الأم مدرسة الأولى 

Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.” .
.
.
Yaa Allah, kelak jika Engkau menginzinkanku menjadi seorang ibu
Jadikanlah aku ibu yang mampu menjadi madrasah pertama bagi anak-anakku
Yang mengajarkan mereka alif, ba, ta,
Hingga mereka mengenal arti surga dan neraka
Yang mengajarkan mereka matematika
Hingga mereka mampu selalu menghitung dosa
Yang mengajarkan mereka bahasa
Hingga mereka mampu selalu menjaga bicara
Yang mengajarkan mereka bahagia
Hingga mereka mampu selalu mensyukuri apa yang ada
Yang mengajarkan mereka doa
Hingga mereka mampu untuk selalu mendoa
Berdoa untuk kedua orang tuanya
Dan mendoakan yang terbaik untuk dirinya
Agar ia memahami
Segala sesuatu terjadi tidak semata-mata karena usaha,
tetapi juga karena izin Yang Maha Kuasa.
Semoga Engkau mengabulkannya 🙂

Menjadi Ibu

“Setiap kali aku memikirkan bahwa kelak aku menjadi seorang ibu. Setiap itu pula aku merasa harus menjadi lebih baik dari hari ini.”

Menjadi seorang ibu adalah dambaan setiap perempuan. Betapa tidak, telah sempurna peran seorang wanita ketika ia mampu menjadi ibu bagi anak-anaknya. Pun dengan diri ini. Mimpi menjadi ibu kelak adalah salah satu keinginan yang sangat ingin aku miliki.

Namun, rupanya menjadi ibu bukanlah pekerjaan yang sederhana. Menjadi ibu adalah amanah yang mempertaruhkan jiwa dan raga. Yang menyita perhatian penuh dan mengambil hampir seluruh perasaan yang dimiliki wanita. Baik senang, sedih, haru, cinta, sayang, maupun duka. Menjadi ibu adalah pekerjaan yang melibatkan hati. Di dalamnya, kita tidak akan mampu jika hanya mengandalkan logika. Tidak butuh banyak alasan logika karena perasaan akan lebih banyak menjalankannya.

Menjadi ibu adalah impian yang harus diupayakan. Oleh karenanya, tidak hanya menyiapkan akan menjadi istri seperti apa kelak, kita juga perlu menyiapkan akan menjadi ibu yang seperti apa nanti. Ibu yang penyayang? Ibu yang tegas? Ibu yang lembut? Ibu yang menjadi teladan? Atau apapun. Semua harus dipersiapkan.

Yang pasti. Sejauh aku mengenal kata ibu, sepanjang itu pula aku tau bahwa seorang ibu adalah orang yang paling sibuk sekaligus paling multitalenta di dunia. Lihat saja. Dari bangun tidur, ia sudah sibuk menyiapkan pakaian dan sarapan untuk suami dan anak-anaknya. Selepas itu, dibersihkannya rumah, dapur, piring, sembari mesin cuci menyala menggiling pakaian-pakaian yang terpakai kemarin. Lalu dijemurnya pakaian-pakaian itu. Setelahnya, ia berbelanja untuk keperluan masak siang dan sore hari. Lanjut dengan memasak dan kembali merapikan apa yang harus dirapikan. Ada waktu untuk rehat tapi tak banyak. Karena setelahnya, ia harus bergegas menanti anak-anak dan suaminya pulang. Menyiapkan makan mereka dan melanjutkan hari dengan mengajarkan anak-anak tugas sekolahnya. Sisanya. Mungkin waktu yang ia sediakan untuk suami akan melengkapi kegiatan sepanjang harinya.

Namun, itu dalam kondisi normal, kondisi semua baik-baik dan sehat-sehat saja. Jika kondisi sedang menyesakkan, seperti si kecil sakit, kendaraan suami mogok, atau hal-hal lainnya, kegiatan penuh teratur dan menanti diselesaikan itu akan kehilangan urutannya. Dan seorang ibu harus siap membelah diri untuk menyelesaikan tiap-tiapnya.

Ia adalah guru, dokter, koki, artis, penulis, sekretaris, bahkan kadang menjadi tukang listrik bagi keluarganya. Ia tidak boleh sakit. Bahkan hanya terlihat sakit. Ia tidak boleh lemah karena ialah penguat setiap lini rumah tangga yang dibangunnya. Ia menjadi poros kebahagiaan dan semangat bagi suami dan anak-anaknya.

Maka dari itu, menjadi ibu perlu persiapan. Fisik dan mental. Seorang ibu tidak perlu menjadi cantik, ia hanya perlu nyaman dilihat bagi keluarganya. Ia tidak perlu pintar nyanyi, selama ia bisa mengaji sudah cukup menjadi nyanyian terindah bagi anak-anaknya. Ia tak harus menjadi profesor, ia hanya perlu banyak belajar dan berpengatahuan luas. Apalagi tantangan zaman ke depan mengharuskan seorang ibu menjadi pandai. Dengan kepandaiannya itu, ia akan menjaga anak-anaknya dari salah pergaulan. Ia adalah segala yang dibutuhkan keluarga dari bangun sampai kembali terlelap.

Kelihatannya, memang tak ada pilihan lain. Selain mempersiapkan segala sesuatunya dari sekarang. Tidak ada kata terburu-buru untuk belajar. Untuk mengemban amanah besar, jika Allah menghendakinya, tidak cukup hanya bermodal pintar dandan. Perlu sejuta kemampuan agar kelak semua berjalan dengan tujuan. Mempersiapkan dari sekarang tidak ada salahnya. Perkara anak adalah hak Allah yang dititipkan kepada kita. Semoga Allah mengizinkan diri ini juga merasakannya. Semangat memantaskan pribadi. 

Penyemangat

“Harus semangat lahir batin pokoknya. Jangan mengeluh, jangan terlihat lemah. Sesuatu yang indah menanti untuk orang-orang yang berjuang,” katanya menyemangati.

Bersabarlah Wahai Hati

​Tiba-tiba aku ingin menulis,

Tiba-tiba saja,

Hanya ingin menceritakan betapa bersyukurnya aku atas kehidupan ini

Semakin hari semakin aku belajar banyak hal yang memang harus disyukuri

Dulu, atau lebih tepatnya kemarin-kemarin,

Aku lebih banyak mengeluh,

Menatap hari-hariku dengan kurang rasa syukur

Selalu membanding-bandingkan diriku dengan orang lain

Menyaksikan kehidupan mereka; terlihat selalu terasa lebih indah

Memandang hanya ke luar,

Tanpa banyak melihat apa yang telah Ia titipkan kepada diri ini.

***

Menjadi seorang anak dengan seorang adik kecil tanpa seorang ibu

Kupikir adalah hal yang cukup menyesakkan,

Mencuci pakaian-pakaiannya, menyiapkan bekal dan perlengkapan sekolahnya adalah hal yang melelahkan

Membuatku harus flu beberapa kali karena harus mencuci malam-malam

Menghadapi perkataan tetangga yang menilai banyaknya cucianku,

Andai mereka tau betapa aku hanya mampu mencuci seminggu sekali

Sehingga pasti akan terlihat selalu sebanyak itu.

Penat kadang,

Belum lagi adikku sering lupa menaruh barang-barangnya

Aku sampai kesal kalau diminta mencarikan apapun miliknya yang hilang

Mana kutahu, pikirku,

Dia yang membuangnya, atau menaruhnya sembarangan tetapi aku yang harus mencarinya

Kadang lelah, ingin menangis, rindu pelukan seorang ibu yang tangannya mampu meredakan tiap ketegangan yang hadir dalam hidup,

Yang doanya mampu mengubah skenario langit yang telah tertulis.

Kadang rindu, dan iri dengan mereka yang masih mampu meminta apapun dan sang ibu.

***

Ah tapi, malu sekali rasanya ketika menyadari betapa pemikiran tersebut adalah bentuk ketidaksyukuran

Malu sekali karena ternyata ada lebih banyak orang yang lebih lelah akan hari yang dijalaninya.

Malu sekali.

Karena pada kenyataannya, diri ini masih mempunyai seorang ayah yang selalu siap siaga membantu anaknya.

Ayah yang tak pernah mengeluh karena harus membantu mengangkat cucian-cucian yang begitu banyak jumlahnya itu.

Ayah yang tanpa diminta akan memasakkan nasi, jika tahu telah kosong isi dalam penanak nasi itu.

Malu sekali, walau ibu telah tiada, tapi kehidupan ini terasa berjalan baik-baik saja.
Hingga kini akhirnya,

Harilah yang menyadarkanku betapa indahnya setiap sisi hidup ini.

Aku justru belajar banyak kedewasaan dari kekurangan yang aku miliki.

Aku bahkan merasa seperti manusia yang Allah titipkan lebih banyak kebahagiaan dibanding orang-orang yang kadang hidupnya aku ingini.

Aku menyadari bahwa kini aku jadi semakin mengerti.

Hidupku adalah hal yang amat patut disyukuri.

Sebab dari banyaknya masalah yang harus dihadapi, aku justru mendapat banyak pelajaran yang begitu berarti.

Menghadapi semuanya yang terkesan “sendiri” mengajarkanku untuk selalu terbiasa mencari solusi.

Menjalani hidup dengan penuhnya tanggung jawab, menempaku menjadi seseorang yang terbiasa menghargai waktu yang dimiliki.
Rupanya dari sini pula aku belajar, tidak ada yang selamanya dalam hidup, begitu pun segala kesulitan-kesulitan ini. Semua akan berlalu, seiring berlalunya waktu.

Semua tergantung bagaimana diri menangkap segala situasi: apakah sebagai sesuatu yang kurang atau justru sebagai suatu rahmat yang memunculkan hikmah yang bertebaran.

Pada akhirnya, aku merasa tidak pernah sendiri.

Lewat segala hal yang dihadapi, aku semakin belajar menyadari bahwa memang ada yang menggenggam jiwa ini.

Ada yang takkan membiarkan diri ini berada pada beban yang tak mampu dipikulnya.

Ia selalu mengerti, sekuat apa hati ini menanggung setiap pemberian-Nya, maka Ia berikan sesuatu yang selalu dirasa mampu untuk dilewati.

Kini aku merasa lebih berbahagia karena meyakini bahwa semakin aku tidak merisaukan sesuatu, semakin berjalan dengan lancar sesuatu itu.

Dengan menghapus sedikit-sedikit risauku, itu artinya semakin bertambah keyakinanku bahwa ada yang mengatur segala jalan hidup. Ada yang bisa dititipkan segala cerita agar kita dapat menjalani hidup tanpa rasa takut. 
Kini, tak ada yang lebih membahagiakan selain dititipkan rasa keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah pemberian yang begitu berarti.

Bahwa akan selalu ada Ia yang mengulurkan tangan untuk menahan segala langkah yang tak mampu lama untuk berdiri.

Akan selalu ada Ia yang menjawab segala kata yang dipanjatkan dengan penuh lirih.

Ia yang takkan pernah lupa untuk membalas segala ketegaran dan kesabaran hati.

Karena nanti akan ada hari yang memberikan ganti atas segala hal yang terasa perih.

Karena semua sementara, akan ada masa di mana kita akan memiliki kebahagiaan yang abadi.

Untuk itu, biarkanku menyemangati diri dengan mengatakan, “Bersabarlah, wahai hati!”
Di sini,

18 September 2016

Maaf untuk Kesekian Kali

Setiap kali aku menangis, yang teringat olehku adalah wajahmu.
Tiap kali aku berbuat salah, aku merasa malu.
Amat malu padamu.
Tiap kali aku mengingat pesanmu,
Tiap kali pula kumenyadari aku yang paling banyak mengabaikan nasihat itu.

Maaf, Bu.
Anakmu, belum bisa menjadi perempuan yang baik.
Maaf membuatmu sedih dan malu.
Doakanku agar mampu untuk menjadi lebih baik.
Lebih baik di mata-Nya dan di matamu.
Maaf, Bu.