Untukmu yang Terlelap dalam Kelelahan

Maaf aku tak dapat menulis apapun saat ini,
Begitu banyak hal yang ingin kuutarakan
Namun, selalu kaku untuk bisa kuterjemahkan
Karena terkadang kata-kata tak selalu mampu mewakili segala rasa
Terkadang makna kata tidak serupa dengan apa yang dimaksudkannya
Jadi biarlah kutulis apa saja yang bisa kutulis
Tanpa mengurangi segala rasa yang tercipta
Untuk kamu yang selalu ada dalam dada

Pernahkah kamu mendengar kisah cinta yang indah?
Aku pun selalu memimpikannya
Kisah Habibie Ainun, Ali dan Fatimah
Begitu indah jalan cinta mereka
Sebentuk keberhasilan cinta
Yang membawa pada hidup yang sakinah dan mengantar mereka pada surga yang indah
Begitu pun yang selalu kuharap terjadi pada kita.

Namun, tahukah kamu? Ada hal indah lain yang tidak pernah lepas dari dua orang yang saling mencinta
Yaitu, kala satu sama lain saling mendoa, saling memanjatkan kebaikan untuk orang yang dicintainya

Begitu pun yang kuharap ada pada kita.
Atau minimal ada pada diriku ini.
Bagiku, cinta bisa berarti doa
Ketika aku cinta, maka aku akan berdoa
Berdoa dan memohon kebaikan untuk orang yang aku cinta
Memanjatkan harap agar Sang Maha Cinta senantiasa memberikan cinta pada orang yang aku cinta.

Pun padamu,
Saat ini aku hanya bisa mendoa
Aku hanya bisa berharap agar Dia selalu memberimu cinta
Senantiasa menuntun segala ucap dan langkahmu menuju bahagia
Senantiasa menjaga orang tuamu agar ada kesempatanmu untuk membahagiakan mereka
Senantiasa mengabulkan segala doa, harap, dan cita yang kamu panjatkan saat kamu terjaga
Dan senantiasa memberikan keridhoan-Nya bagi hidupmu dan apapun pilihan yang kamu minta

Biarlah doa yang mewakili segala cinta
Karena lewat doa juga dapat kutitip
Segala rasa yang belum waktunya
Lewat doa pula dapat kuminta segala akhir yang penuh bahagia.

Jadi, maaf, jika hanya doa yang bisa kutuliskan
Kelak, jika Ia mengizinkan
Akan aku tuliskan perasaanku yang begitu dalam
Dan hanya kupersembahkan untukmu seorang.

Selamat malam untukmu,
Semoga Allah senantiasa menyayangimu 🙂

Padamu

Sering aku mengingatmu, baik dengan sadar atau tanpa kurencanakan terlebih dulu

Tidak pernah aku merasa bosan
Mengingat sosok terbaik yang pernah ada dalam hidupku.

Hari ini pun kembali kuteringat
Namun dalam ingatan yang lebih hangat
Setelah tanpa sengaja kutatap waktu
Dan kusadari..
Esok adalah tanggal kelahiranmu.

Tiba-tiba saja kenangan akan hari-hari kita bersama seakan hadir kembali di depan mata.
Kau yang selalu berdiri depan pintu kamar dan membangunkan tidurku
Kau yang selalu sibuk bertanya tiap aku akan pergi darimu
Kau yang selalu bisa memasakkan apapun kesukaanku
Kau yang selalu..

Rupanya sesak setiap kali kuingat kau telah pergi dari sisiku.
Hingga akhirnya selalu kucari cara untuk berhenti memikirkanmu.
Namun yang terjadi, semakin aku tak kuasa membayangkanmu.

Pun dengan malam ini.
Begitu mudahnya kenangan akanmu melagu
Entah kusengaja atau memang tanpa sengaja kembali dihadirkan oleh waktu.

Maaf, Bu.
Anakmu tidak pernah berhasil untuk menjadi tegar, menjadi kuat, dan pandai menahan segala rindu
Anakmu terlalu rapuh untuk sekadar tidak membahas kepergianmu
(mungkin) anakmu terlalu ingin berjumpa lagi denganmu

Bahkan segala kesibukan tak mampu mereduksi segala rindu yang tercipta untukmu
Semua terlalu sulit untuk sekadar diganti menjadi sebuah doa terbaik untukmu.

Maaf, Bu.
Pada akhirnya aku menulis dan kembali menceritakanmu.
Bukan untuk mengiba dan tak bahagia atas takdir-Nya untukku
Bukan untuk meratap atau tak menerima ketentuan ini untukku

Namun barangkali dengan ini, aku bisa lebih berdamai pada diriku
Pada gejolak yang tak mampu kutahan barang sejenak
Barangkali dengan ini, ada sedikit rindu yang mampu kuurai untuk bersabar atas jauhnya dirimu.
Barangkali..

Selamat ulang tahun dariku, Bu. Semoga Allah swt senantiasa menyayangi Ibu 🙂

Salam cinta,
Anakmu.

Monolog

“Kamu bisa begitu serius mengurusi urusan dunia, tetapi mengapa kamu masih main-main dalam mengurusi urusan akhirat?” Tanyanya kepada wanita dalam cermin.

Maaf Ayah

Aku bahkan belum bisa membahagiakanmu, tetapi aku selalu membuatmu kecewa

Maaf Ayah..

Ramadhan Kali Ini

Suara takbir telah berkumandang
Petasan pun sudah mulai bersahut-sahutan
Adik kecil begitu riang
Bersama teman-teman mereka katakan,
“Horeee besok Lebaran!!”

Ucapan selamat hari raya mulai berdatangan
Grup whatsapp pun dipenuhi broadcast messages desain ucapan Selamat Hari Lebaran
Memang mungkin sudah waktunya
Pemerintah pun tlah umumkan besok tibanya hari raya

Namun,
tetiba ada yang tersentak kaget
Ada yang tersedu dalam diam
Termenung sendirian
Bingung
Sedih
Haru
Karena sepertinya ada yang berlalu begitu saja
Tanpa berbekas banyak
Lebih buruk dari sebelumnya
Lebih sedikit tercapai targetnya.

Hati hanya bisa menghitung..
Berpasrah dan berdoa,
Semoga Allah mengampuninya
Mengampuni kelalaiannya

Kebahagiaan

Mungkin kita sedang lupa cara bersyukur.
Mungkin kita hanya perlu sedikit berkeliling.
Mengamati jalan dan jembatan.
Menyaksikan ribuan kebahagiaan.
Mungkin kita hanya perlu memaknai kembali.
Apa arti kebahagiaan itu?

Apakah wajah cantik sebuah kebahagiaan?
Uang banyak? Jabatan? Rumah gedongan? Mobil mewah?
Apakah itu kebahagiaan yang sesungguhnya?

Sedang kita tengok di luar sana.
Ada banyak orang memiliki itu semua.
Namun tak bisa dipastikan kebahagiaannya.

Ya.
Kita hanya perlu menengok lagi ke dalam diri
Apakah dengan kita menganggap mereka yang lebih di atas kita itu pasti bahagia?
Kita hanya perlu menengok lagi
Merenung barang sebentar
Memaknai kembali
Bahwa sejatinya kebahagiaan itu tidak harus terletak pada sesuatu yang indah menurut kebanyakan.
Kebahagiaan itu tidak harus cantik, kaya, pintar, dan sebagainya.
Karena kebahagiaan itu bisa terwujud dengan sesuatu yang amat sederhana.
Karena kebahagiaan itu tidak ada di mana-mana, tetapi ia ada di mana-mana 🙂

“Ya, kamu harus bahagia, sebagai wujud syukurmu pada-Nya.”

Persembahan Terbaik

Selalu ada hadiah terbaik yang bisa kita persembahkan kepada orang yang kita sayangi: Doa.

“Semoga Allah selalu menyayangimu.”
🙂